Feeds:
Posts
Comments

Melihat anak saya berpakaian Pramuka, saya jadi teringat ke masa-masa sekolah dulu. Ketika saya masih usia SD, ayah mendaftarkan saya untuk menjadi anggota Pramuka dari sebuah Gugus Depan yang biasa berlatih setiap minggu sore di komplek Pertanian dimana kami dulu tinggal. Hingga saya duduk di SMP pun saya masih melanjutkan untuk tetap aktif di Pramuka sekolah. Saya merasa, inilah kegiatan yang pas untuk saya mengaktualisasikan banyak hal. Membangun jiwa kepemimpinan, ketaqwaan, kemandirian, kejujuran, kreatifitas, solidaritas , rasa hormat dan segudang keterampilan hidup lainnya dari mulai urusan tali temali, sandi rahasia, membaca peta, memasak, menjahit, membangun tenda hingga survival.

Kenangan saat menjadi delegasi Pramuka SMPN 4 Bogor, menjuarai Lomba Tingkat se-Propinsi Jawa Barat di Jatinangor Sumedang

Tentu tidak hanya sekedar rasa bangga karena bisa memiliki keterampilan yang banyak yang ditandai dengan sederet badge Tanda Kecakapan Khusus di selempangnya. Namun ada pula rasa berarti yang mendalam ketika diri kita bisa bermanfaat bagi orang lain yaitu ketika mampu memberikan pertolongan dan bantuan apapun kepada orang lain yang membutuhkan. Tidak salah kalau Pramuka kemudian dilambangkan dengan “Tunas Kelapa”.Betapa indahnya janji seorang Pramuka [..andaikan para pemimpin negeri ini juga memahami janji Dasa Dharma Pramuka…]. Kini saya merasakan janji itu mengiang kembali:

DASA DHARMA PRAMUKA,
Pramuka itu:
1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
3. Patriot yang sopan dan kesatria.
4. Patuh dan suka bermusyawarah.
5. Rela menolong dan tabah.
6. Rajin, terampil, dan gembira.
7. Hemat, cermat, dan bersahaja.
8. Disiplin, berani, dan setia.
9. Bertanggungjawab dan dapat dipercaya.
10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

Sayang, kini sang Tunas Kelapa itu kian menguncup. Pramuka sudah tidak lagi sepopuler dulu. Nampaknya kini sudah tidak banyak anak-anak kita yang tertarik lagi menjadi anggota Pramuka, kecuali tinggal seragam cokelatnya yang kini menjadi salah satu pakaian seragam yang wajib dipakai ke sekolah sepekan sekali…

Advertisements

Tulang Belakang (backbone) selalu dikaitkan untuk menunjukkan sesuatu yang vital, yang tanpa keberadaannya semua akan lumpuh dan tak berdaya. Bahkan dalam dunia IT -pun bagian yang vital dari susunan Network disebut dengan Backbone Network.

Beberapa hari terakhir ini, saya mendapatkan banyak hikmah dengan kejadian yang telah menimpa saya sehingga akhirnya banyak berurusan dengan Tulang Belakang. Saya mengalami musibah cedera tulang belakang yang penyebabnya tidak terduga. Ternyata hanya karena kecerobohan posisi tubuh yang salah ketika mengangkat beban yang lumayan berat. Sakit yang dirasakan membuat sulit bergerak dan beraktifitas, hingga akhirnya harus menjalani berbagai pemeriksaan dan tindakan fisioterapi.

tulangbelakang02

Subhanallah, Allah SWT telah menciptakan tubuh manusia ini dengan sempurna, yang ditopang dengan susunan tulang belakang yang memanjang dari leher sampai ke selangkangan yang terdiri dari 33 ruas tulang yang masing-masing memiliki nama dan fungsinya sendiri. Di dalam susunan tulang tersebut terangkai pula rangkaian susunan syaraf, yang bila terjadi cedera di tulang belakang maka akan mempengaruhi syaraf-syaraf tersebut.

Tulang belakang menjadi semacam gardu induk bagi 31 pasang urat saraf yang menjadi sistem saraf pusat yang mengatur semua sistem organ tubuh termasuk untuk sistem keseimbangan. Saraf-saraf ini keluar melalui bukaan-bukaan kecil di tulang belakang ke berbagai otot, organ-organ, bahkan ke jaringan kulit. Sumsum tulang belakang berfungsi sebagai pusat saraf yang meneruskan impuls ke otak dan sebagai pusat gerak refleks. Rangsangan (impuls sensorik) yang mengenai organ reseptor merambat melalui tanduk dorsal menuju sumsum tulang belakang dan menjadi impuls motorik. Kemudian impuls keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju ke efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensorik dan akan menghantarkannya ke sel saraf motorik.

Jika terjadi subluksasi (pergeseran tulang belakang), maka sistem saraf akan luka dan aliran energi ke organ pun terganggu. Karena kompleksnya susunan tulang belakang, bahkan gerakan normal pada tulang belakang pun bisa menimbulkan gangguan, misalnya terjatuh, salah mengangkat beban, pergerakan pada satu sisi yang berulang, postur tubuh yang salah dapat mengganggu mekanisme tulang belakang. Itulah mengapa, trauma tulang belakang bisa mengakibatkan kelumpuhan.

lifting

Berikut adalah beberapa tips yang berguna agar kita bisa menjaga kondisi tulang belakang dalam berbagai aktifitas yang kita jalani:

1. Ketika akan mengangkat barang atau bayi dari lantai, tekuk lutut Anda, jangan membungkuk. Ketika Anda membungkuk dan mengangkat barang berat dari lantai, hal ini bisa menyakiti dan membebani tulang punggung dengan beban terberat. Salah-salah, malah bisa terjadi kram atau dislokasi. Ketika akan mengangkat barang berat dari lantai, usahakan untuk menjaga tulang belakang tetap lurus. Tekuk kaki Anda untuk menyejajarkan diri dengan barang tersebut. Angkat barang tersebut dekat dengan tubuh, lalu perlahan berdiri kembali.

2. Begitu pula ketika Anda akan menaruh barang berat ke tempat yang tingginya di atas kepala Anda, usahakan jangan mengangkat barang tersebut lebih tinggi dari pundak Anda. Jika Anda akan menyimpan barang berat di tempat yang tinggi, gunakan tangga atau kursi. Mengangkat beban berat di atas batas pundak Anda bisa menyebabkan tulang belakang mendapat tekanan yang sangat besar.

3. Ganti posisi sesering mungkin jika Anda harus berdiri dalam waktu lama. Misalnya saat Anda berdiri sambil menyetrika baju, gunakan dingklik atau kursi kecil untuk menaruh kaki Anda bergantian. Ini perlu untuk menyeimbangkan dan mengganti tumpuan berat badan. Berdirilah tegak, jangan membungkuk dengan kepala tegak.

4. Berjalanlah dengan tegak, dengan kepala menatap ke depan dan punggung lurus. Berjalanlah dengan postur tegak, pandangan ke depan, dan ujung-ujung kaki menunjuk ke lurus ke depan. Gunakan sepatu yang nyaman dan berhak tipis. Hindari berdiri dengan posisi yang sama dalam waktu lama. Jangan berjalan membungkuk, hindari menggunakan sepatu berhak tinggi dalam waktu lama.

5. Ketika di dalam mobil, duduklah tegak, majukan tempat duduk pengendara agar kaki Anda lebih dekat dengan pedal. Usahakan kedua lutut Anda sejajar dengan pinggul. Sokong punggung bagian bawah dengan handuk gulung atau penyokong tulang belakang khusus. Jangan duduk terlalu jauh dari setir. Perhatikan kaki Anda ketika menginjak pedal. Jika terlalu jauh, dekatkan, karena ketika otot kaki tiba-tiba meregang tanpa pemanasan bisa menyebabkan kram dan tekanan di tulang punggung.

6. Saat duduk di depan komputer atau di depan televisi yang biasanya akan berlangsung lama, pastikan paha Anda sejajar dengan lantai, jangan sampai kaki menekuk terlalu tinggi (berarti lutut Anda lebih tinggi dari paha) atau kaki Anda menggantung jauh dari lantai. Biarkan kedua telapak kaki Anda rata di lantai dan punggung Anda mendapatkan dukungan dari belakang kursi. Untuk lebih amannya, berikan gulungan handuk di bagian punggung bawah. Pastikan pandangan Anda lurus ke depan, tidak menunduk atau melihat ke atas. Posisi yang tak nyaman dalam waktu lama bisa menyebabkan kram otot.

7. Saat tidur, manusia memang memiliki kebiasaan dan posisi nyamannya masing-masing. Namun, untuk menjaga agar tulang punggung tetap baik, pastikan tempat tidurnya cukup keras dan rata. Ketika tidur dengan posisi menyamping, tekuk sedikit lutut, biarkan kedua lutut tersebut bertumpukan. Jika Anda tidur telentang, berikan bantal kecil di bawah lutut. Hindari tidur telungkup, karena ini bisa menyakiti tulang belakang Anda. Hindari tidur di media yang terlalu lembut, seperti sofa, karena hal ini tidak bisa menyokong tulang punggung.

Referensi:

mataKita memiliki mata untuk melihat. Namun penglihatan kita ada batasnya. Bahkan terkadang betapa mudahnya kita tertipu oleh apa yang kita lihat. Ternyata tidak semua yang kita lihat sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Orang yang arif tidak akan melihat hanya pada apa yang terlihat. Dia melihat tidak hanya dengan mata kepalanya, tapi juga melibatkan mata hatinya.

Dalam keseharian kita, boleh jadi orang yang penampilan lahirnya begitu bersahaja namun ternyata derajatnya begitu tinggi disisi Allah. Hatinya begitu bersih. Bahkan malam-malamnya dilalui dengan banyak bersimpuh di hadapan Yang Maha Mendengar dengan untaian do’anya yang menggetarkan. Perhatiannya begitu besar untuk berusaha meringankan beban orang lain. Ketulusan dan keikhlasannya membuat dia tetap istiqomah untuk berbuat kebaikan walaupun tidak ada satu pun orang yang tahu. Sementara sebaliknya, boleh jadi orang yang selama ini kita puja-puji dan hormati karena penampilannya, ternyata derajatnya begitu rendah dan hina karena sedikit sekali bersyukur kepada Allah. Apalagi kalau kebaikan dan kedermawanan yang selama ini ditampilkan hanyalah sebuah kamuflase untuk menebar pesona belaka. Ada ungkapan yang mengatakan, begitu mudahnya kita melihat orang berbuat baik, namun tidak mudah mencari orang yang baik.

Apalagi bagi seorang pemimpin, hendaknya dia memiliki kemampuan untuk melihat apa yang tidak terlihat oleh orang lain. Dengan mata hatinya yang tajam, dia akan memiliki kepekaan untuk bisa merasakan setiap derita dan kesulitan orang lain. Dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak, sebelum mampu memenuhi dengan baik hak-hak orang yang dipimpinannya. Semoga kelak kita akan mendapatkan seorang pemimpin yang tidak hanya (mau) melihat apa-apa yang terlihat saja…

Berhati-hatilah

roadMusim penghujan di negeri ini bagi sebagian orang berarti harus waspada terhadap musibah banjir dan longsor yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Selain itu hujan berarti tiba saatnya bagi para pengguna jalan untuk mulai waspada dan mahir bermanuver di jalan-jalan yang rusak dan berlubang.

Namun demikian, semahir apapun kita berkendara di jalan yang rusak dan berlubang, jika tidak diiringi kehati-hatian maka peluang untuk terperosok ke dalam lubang pun makin besar. Apalagi ketika kerusakan jalan sudah terlalu lama dibiarkan akan menyebabkan makin banyak lagi lubang yang cukup dalam yang bertebaran dimana-mana. Pilihan untuk mencari bagian jalan yang kondisinya masih baik pun makin sedikit dan makin sulit sehingga diperlukan kehati-hatian yang lebih besar lagi agar bisa menyusuri jalan dengan aman dan selamat.

Kehati-hatian kita dalam menyusuri jalan rusak dan berlubang ini seharusnya juga mengingatkan kita bahwa dalam menjalani hidup pun sudah seharusnya kita jalani dengan penuh kehati-hatian. Setiap langkah perjalanan hidup yang kita lalui jangan sampai terperosok dari satu lubang ke lubang yang lain. Kalaupun kita sempat lengah sehingga terperosok pada satu lubang, maka selanjutnya kita harus makin berhati-hati untuk senantiasa menjaga setiap langkah hidup kita agar tidak terperosok ke lubang berikutnya apalagi terperosok di lubang yang sama berkali-kali.

Berhati-hatilah dengan lisan kita, jangan sampai ada orang lain yang hatinya terluka. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa luka hati bisa saja dimaafkan tapi belum tentu bisa dilupakan.

Berhati-hatilah dengan nafkah kita, jangan sampai ada sesuatu yang sebenarnya bukan hak kita yang ikut kita makan. Jangan sampai ada setitik pun sumber yang tidak halal, yang menjadi darah daging anak istri kita. Sehingga do’a-do’a kita pun menjadi hambar dan tidak lagi didengar oleh Allah.

Berhati-hatilah dengan amanah kekuasaan kita, jangan sampai posisi kita yang seharusnya menjadi momentum untuk membuat kebijakan yang membawa kebaikan, justru malah membawa kemudharatan.

Berhati-hatilah dengan setiap amal kebaikan yang kita tebarkan, jangan sampai menjadi sesuatu yang tidak bernilai hanya karena niat kita yang tidak ikhlas demi mengejar popularitas.

Berhati-hatilah dalam menyusuri perjalanan hidup kita yang singkat ini, agar kelak bisa menjadi sejarah yang indah untuk dikenang sepanjang masa…

treeBerapa banyak orang yang berusaha membangun citra dirinya dengan segala cara. Berbagai politik pencitraan dan personal branding pun dilakukan melalui berbagai media dengan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Namun sesungguhnya itu semua belum tentu akan mengubah citra diri seseorang. Seperti apa citra diri seseorang dimata orang lain, sesungguhnya ditentukan oleh sikap dan perilakunya sehari-hari. Sepandai-pandainya seseorang memanipulasi citra dirinya, tentu pada akhirnya akan terungkap juga siapa orang itu sebenarnya.

Seandainya kita sebagai seorang pimpinan atau atasan ingin mengetahui bagaimana sesungguhnya citra diri kita dimata para karyawan. Tanyakanlah pada mereka bahkan hingga karyawan pada level terendah tentang bagaimana kesan mereka. Orang yang citra dirinya baik pasti akan meninggalkan kesan yang baik, yang akan terungkap dengan tulus, jujur dan tanpa rekayasa.

Sesungguhnya setiap bentuk perhatian dan kebaikan yang tulus yang kita berikan kepada siapapun pasti akan meninggalkan jejak kebaikan. Bahkan perhatian yang paling minimal pun seperti memberikan senyum, memberikan salam dan menyapa akan meninggalkan kesan yang indah. Jangan pernah memberi perhatian dan kebaikan dengan membeda-bedakan orang hanya karena posisinya. Boleh jadi, setiap orang, siapapun dia, yang merasakan kebaikan diri kita akan menjadi penyebab turunnya keberkahan karena do’a-do’a tulus yang mereka mohonkan pada Allah.

Saat-saat kita berinteraksi dan bergaul dengan keluarga hendaknya selalu menjadi moment yang sarat dengan kebaikan. Bahkan ketika berpamitan dengan mereka walaupun hanya untuk sekedar berangkat tidur dan berangkat bekerja jadikanlah selalu sebagai kesan yang terindah. Tinggalkanlah selalu senyuman, kecupan dan do’a sayang yang akan terus dikenang sepanjang hidup mereka.

Jadikan setiap pertemuan dan perjumpaan kita dengan siapa pun dapat meninggalkan kesan yang terindah, karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu, boleh jadi hari ini adalah hari terakhir perjumpaan kita dengan mereka…

Siapakah Kita?

a645868089_1341075_6675Bagi sebagian orang kehilangan jabatan adalah malapetaka dan musibah besar yang seakan-akan tanpa jabatan dirinya sudah tidak memiliki kehormatan lagi.

Bahkan tidak sedikit orang yang menyandarkan kemuliaan dirinya pada deretan gelar dan pangkat yang disandangnya seakan-akan dengan tidak bertenggernya gelar dan pangkat disamping namanya,dia merasa tidak terhormat.

Ada pula yang ketika memasuki saat-saat pensiun dari berbagai posisi penting dan terhormat, seakan-akan dia sudah kehilangan segalanya.

Lalu siapakah diri kita sebenarnya dan semulia apakah diri kita sesungguhnya?
Sebaik-baik manusia adalah yang memiliki kemuliaan karena memang pribadinya yang dimuliakan Allah. Mulia karena memang dirinya ditinggikan derajatnya oleh Allah. Mulia karena ketakwaannya. Selalu gemar menebar kebaikan dan memberikan senyum tulus kepada siapapun tanpa membedakan kelas sosial atau karena adanya kepentingan tertentu.

Siapapun yang pernah bergaul dengannya akan merasakan kebaikannya. Dia dicintai dan dihormati bukan karena posisinya, jabatannya, pangkatnya, gelarnya atau apapun atribut-atribut kehormatan semu lainnya. Dan keberadaannya selalu dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Ketika dia meninggalkan dunia ini, dia akan selalu dikenang karena jejak-jejak kebaikannya.

Ketika kita menanggalkan semua gelar kehormatan dan atribut lainnya maka itulah diri kita yang sesungguhnya. Kalau orang masih menghormati kita hanya karena atribut-atribut ini, berarti pada hakikatnya kita belum menjadi orang yang baik dan terhormat. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang layak untuk dimuliakan dan ditinggikan derajatnya disisi Allah.

Saat ini bisa dipastikan hampir setiap orang memiliki ponsel. Bahkan office boy dan cleaning service di kampus pun sudah banyak yang berponsel. Lebih unik lagi, tidak jarang kita menjumpai seseorang yang memiliki beberapa ponsel sekaligus, dari mulai yang CDMA hingga GSM dari berbagai operator. Nampaknya masing-masing ponsel tsb diperuntukkan untuk kebutuhan komunikasi yang berbeda-beda, karena setiap operator memberikan tarif murah untuk produk layanan yang berlainan. Ada yang murah untuk tarif percakapannya, ada yang untuk smsnya, bahkan ada yang menggratiskan komunikasi sesama pengguna dari operator yang sama.

Ponsel memang sudah – tidak sepenuhnya – barang mewah lagi. Banyak yang harganya sudah terjangkau oleh kantong tukang sayur, bahkan tukang becak sekalipun. Walaupun ada juga ponsel yang tetap masih menduduki kategori mewah dengan harga yang selangit. Ponsel seperti ini biasanya dimiliki oleh para boss, pejabat, executive atau bahkan siapapun yang ingin merasa ‘prestise’ dirinya makin ‘melangit’ bila dia memperlihatkan ponsel ‘selangit’ tersebut. Walaupun tidak sedikit pemiliknya yang tetap saja ‘gaptek’ alias gagap teknologi. Tidak tahu menahu dengan berbagai kecanggihan fitur yang sesungguhnya dimiliki ponsel tersebut. Akhirnya paling-paling hanya digunakan untuk ber-sms dan ber-telepon ria. Yang penting gaya..hehe..:-)

Tambahan lagi, kini para operator pun makin banyak yang bermunculan dengan berbagai produknya. Mereka seakan tidak pernah mau berhenti untuk saling bersaing tarif layanannya. Walaupun iklan-iklannya kini sudah menjurus ke ‘hypermarketing’ yang tidak jarang membuat banyak konsumen malah bingung. Semua operator berlomba-lomba untuk saling menjatuhkan harga tarif layanan serendah-rendahnya. Bahkan uang Rp1000 (seribu rupiah)-pun sudah bisa untuk membeli pulsa operator tertentu.

Fenomena ini sebenarnya positif saja karena membuat siapa pun saat ini bisa menjadi bagian dari dunia komunikasi tanpa batas. Komunikasi seolah menjadi tidak berjarak. Kapan pun dimanapun kita bisa saling berkomunikasi dengan mudah. Seorang dosen bisa menelepon OB (office boy) bila ingin dibuatkan secangkir kopi atau minta dibelikan bubur ayam di kantin. Tanpa harus mencari-cari atau berteriak-teriak memanggil. Bahkan kalau ingin lebih irit, biasanya cukup dengan “missed-call”, maka sang OB pun sudah bisa menghampiri. Seorang mahasiswa bisa menghubungi dosennya untuk membuat janji jadwal konsultasi bimbingan skripsinya di kampus tanpa harus ‘kucing-kucingan’ terlebih dahulu. Sebaliknya sang dosen pun bisa menghubungi mahasiswanya jika ternyata tiba-tiba harus membatalkan jadwal konsultasinya. Walaupun ada juga sejumlah dosen yang masih tidak rela kalau nomor ponselnya sampai diberitahukan ke mahasiswa.

Yang justru membuat fenomena ponsel ini jadi ribet adalah ringtone (nada dering)-nya. Baik nada dering sms maupun nada dering untuk panggilan masuk (incoming call). Rupanya tidak banyak pemilik ponsel yang memahami bagaimana memperlakukan fitur yang satu ini dengan baik. Tidak jarang suasana rapat, pertemuan bahkan sidang skripsi menjadi terganggu konsentrasinya oleh suara nada dering yang tiba-tiba berbunyi dengan kerasnya. Bahkan lebih parah lagi kekhusukan sholat berjamaah pun menjadi buyar oleh suara nada dering yang terus menerus berbunyi tanpa bisa dimatikan oleh si pemiliknya. Pernah terjadi suatu ketika saya sedang memimpin sholat berjamaah, tiba-tiba ada salah satu makmum yang nada dering ponselnya berbunyi sangat keras hingga akhir sholat. Praktis bacaan sholat saya saat itu harus bersaing dengan nada dering alunan lagu dangdut yang sedang populer saat itu. Anehnya, saya perhatikan di hampir tiap kejadian seperti ini, kok tidak nampak ya rasa bersalah dari para pemilik ponsel tersebut. Seolah ini adalah hal yang biasa saja dan tidak membuat orang lain terganggu.

Saya teringat ketika masih studi di Melbourne, pada saat kuliah hari pertama biasanya dosen menyampaikan hal-hal penting terkait rencana perkuliahan dan juga menyepakati ‘rules’ di kelas. Terutama dalam hal menghargai dosen yang sedang memberi kuliah. Sang Dosen akan merasa terganggu bila ada mahasiswa yang menginterupsinya untuk meminta ijin ketika terlambat masuk kelas ataupun keluar untuk ke toilet. Nah, apalagi terkait dengan nada dering ponsel. “During the lecture, all mobile phone must be switched off or set to the silent mode, please…” begitu kata sang dosen.

Sebenarnya tidak perlu ada yang merasa terganggu selama kita cukup sensitif dan memiliki empati untuk selalu menyesuaikan nada dering ini dengan kondisi sekitar kita. Bukankah setiap ponsel dapat diatur nada deringnya menjadi tak bersuara yaitu dengan mengaktifkan fitur ‘silent mode’ ataupun nada getar (vibrasi). “Please, use technology wisely and appropriately…”